TAK SEMUA MASALAH POLITIK HARUS DISELESAIKAN DENGAN CARA POLITIK

Assalamualaikum wr wb.
Ikhwan dan akhwat sekalian para mas’ulin DPW Lampung, dan Wilda
Sumatra, dan seluruh kader yang saya cintai. Saya bersyukur sekali bisa
datang ke sini pagi ini meresmikan gedung baru DPW (GSG) yang lebih
bagus dari milik DPP.

Target menuju 3 besar sudah semakin dekat. Apalagi saya juga tahu
bahwa di beberapa kabupaten di Lampung ini sudah nomor 3 ya. Ikhwan
akhwat sekalian. Beberapa waktu yang lalu, saya pernah ke Malaysia.
Tiba-tiba ada goncangan pesawat kemudian ada pengumuman dari pilot “Para
penumpang sekalian kita akan mengalami goncangan selama 15 menit
setelah itu cuaca akan kembali baik.” Setelah 15 menit goncangan benar
berhenti, pesawat terbang normal dan kita landing di Kuala Lumpur dengan
selamat. Saya mengingat itu terus menerus karena kita sedang menghadapi
operasi politik secara bersamaan. Dan saya yakin operasi politik itu
hanya akan berlangsung 15 menit setelah itu goncangan kembali ke tempat
lain, bukan karena kita yang mengarahkan anginnya ke sana. Goncangan
sudah merupakan kemestian yang akan kita hadapi.

Jadi ikhwah sekalian. Dari perjalanan itu saya mencoba-coba
rekonstruksi kembali bahwa memang perjalanan kita ini ketika kita
memasuki mihwar muasasi bergumul di ruang politik yang luar biasa
dahsyatnya.

Ikhwah sekalian saya pernah tanya seorang pilot apa bedanya
menerbangkan pesawat siang hari dan malam hari. Pilot menjawab sama saja
karena ketika kita sudah di ketinggian yang ada hamparan kosong. Kanan
kiri depan semuanya hanya ada awan.
Jadi gelap dan terang tidak penting bagi kita, jawab pilot. Jadi
bagaimana cara anda mengetahui arah kalau tak ada bedanya siang atau
malam. Kita pake GPS. GPS yang menuntun perjalanan kita ini. Jadi, hal
pertama yang diperlukan seorang pilot adalah GPS. Jadi kalo GPSnya ada
masalah pasti dia punya masalah, karena ketika kita sudah ngga di bawah
kita ngga tau posisi, kalau bukan karena ada GPS.

Meramalkan Badai
Saya hadir di Seminar Mukjizat Al Quran tahun 1986. Saya salah satu
penerjemah. Salah satu temanya adalah tentang cuaca. Ayat-ayat AlQuran
tentang awan menunjukkan bahwa seluruh yang ada di alam semesta tak bisa
kita pastikan apalagi dikendalikan tapi bisa kita ramal. Badai kemana
bisa kita ramal.

Jadi karena itu seorang pilot harus terus berkomunikasi dengan orang
yang ada di tower untuk mendapatkan update info terbaru tentang keadaan
cuaca yang keadaan ini adalah fata yang tak bisa dikendalikan tapi bisa
disiasati. Jadi kalau ada perubahan cuaca mendadak, tower bisa bilang
rute dirubah, tapi destinasi tak berubah. Jadi seorang pilot
menerbangkan pesawat butuh 2 hal ini. Pertama GPS, kedua ramalan cuaca.
Seorang pilot tak bisa mengendalikan cuaca di luar. Itu di luar
kendali sama sekali. Makanya kemungkinan dia mengalami kecelakaan selalu
ada. Kita juga tak bisa mengendalikan lingkungan yang ada di luar kita
ini. Yang ada dalam analisa-analisa manajemen strategis disebut
lingkungan strategis yaitu faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi
situasi dimana kita berada. Kita tak bisa memastikannya walau kita bisa
membaca dan membuat prediksi-prediksi ang disebut prakiraan keadaan.
Tapi semua prediksi ini adalah prediksi yang tidak pasti, tapi
diperlukan karena itu memberi kita info real time terhadap situasi yang
berkembang. Oleh karena itu, kalau ada keadaan cuaca yang buruk, pilot
bilang: tolong kencangkan ikat pinggang. Selain itu apalagi yang bisa
kita lakukan?

Langit Punya Cara
Ketika Merapi meletus , ke Jogja yang normalnya 50 menit jadi 2 jam.
Di pesawat semua pengurus DPP ada disitu. Ketua Majelis Syuro,
Bendahara, semua. Jadi kalau pesawat jatuh, kita harus munaslub.
Pesawat bisa tiba-tiba turun 40 meter. Semua diam. Semua dzikir. Ini
bukan goncangan 15 menit. Karena sudah tegang semua tak ada yang bahkan
berbisik dengan tetangga. Kita semua tegang jamai. Lalu saya menoleh ke
belakang dan mengangkat tangan: Assalamualaikum. Kita jadi agak normal
kembali walau goncangan tetap saja.

Sekali waktu dalam perjalanan ke batam naik pesawat. Transit di
pekanbaru, pilot bilang ada kerusakan di mesin jadi kita harus kembali.
Beberapa waktu kemudian ada pengumuman dari pilot kerusakan tidak
terlalu parah jadi kita lanjutkan perjalanan. Dalam situasi begitu tak
ada yang bisa kita lakukan selain kencangkan ikat pinggang dan ..
berdoa.

Ikhwah fillah sekalian,
Tak semua masalah politik harus kita selesaikan dengan cara politik.
Kalau antum lihat di Al Quran kata yang paling banyak terkait dengan
sifat atau karakter adalah sabar. Sabar itu artinya bukan bertahan.
Tapi terus menerus maju dengan beban yang ada. Dan pesawat itu kalau ada
guncangan yang kita lakukan adalah kencangkan ikat pinggang, bukannya
pesawat berhenti parkir di tengah badai. Kita dapat laporan dari
wartawan. Macam-macam. Dalam situasi begini, kita akan hadapi pakai cara
apa? Saat perjanjian hudaibiyah sahabat sampai makan daun. Ada saatnya
kencangkan ikat pingganag karena tak ada lain yang bisa dilakukan.

Fitnah itu, kata ulama, saking buruknya situasi kita tak bisa lihat
tangan kita sendiri. Dan saat seperti itu, yang duduk lebih baik
daripada yang berdiri. Yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan.
Ada saatnya kita kencangkan ikat pinggang. Kalau antum ambil doa dari
orang seperti ayahandanya Nabi Yusuf: Saya hanya mengadukan semua
kegelisahan saya kepada Allah.

Ada kisah seorang soleh dirampok di tengah jalan. Tapi perampok
merasa tak cukup hanya mengambil hartanya. Saya juga ingin membunuh
kamu. Kata orang soleh, tapi kasih saya kesempatan sholat 2 rakaat.
Waktu sholat dia berdoa, “ya Allah hadapilah orang ini.” Sebelum dia
selesai sholat, perampok sudah mati.

Kaum salaf di antara doa-doa mereka, “Ya Allah ketemukanlah orang
zolim dengan sesama orang zalim dan keluarkan kami dari mereka dengan
selamat.”
Waktu video mirip saya keluar ada yang mengatakan harus ada operasi
politik. Saya katakan lebih baik kita umroh saja sambil menghibur diri
dan mohon pertolongan Allah. Kita berdoa dan tak tahu kapan isu itu reda
tapi sebelum saya pulang umroh, isu itu reda.
Tidak semua masalah politik harus diselesaikan dengan cara politik.
Langit punya cara. Basis spiritual kita harus diperkuat dalam
berdakwah. Dengan basis ini kita punya keyakinan. Allah berfirman
bersabarlah karena janji Allah itu benar dan jangan orang-orang yang
tidak percaya itu menggoyahkan kamu. Jalan terus tawakkal sambil
kencangkan ikat pinggang. Itu cara kita mensiasati. Kita tak hanya
berdiam diri. Kita juga butuh informasi real time. Sambil aware, jangan
sampai badai terjadi baru kita mau belok. Tapi kita sudah dapat
informasi ini mau ada badai, kita sudah siap. Jadi ikhwah fillah
sekalian, pesawat itu kan goyang-goyang waktu ada badai. Reaksi
penumpang beda-beda. Ada yang diam pegang ikat pinggang, ketika goncang
menguat naik turun seperti itu ada yang teriak, ada juga yang
muntah-muntah.

Kalau goncangan lama banyak yang stress. Naik kapal perintis ke Ambon
selama 3 hari. Kami harus berpegangan di kapal selama 3 hari
berturut-turut. 3 bulan recovery karena jalan itu seraya goyang dunia.
Pada akhirnya kita berpikir bahwa ujung dari semua ini adalah kematian.
Tapi ada juga yang sempat berpikir tentang daftar utang yang belum
dibayar. Ada juga yang mikir belum walimah.

Goncangan seperti inilah yang disebut amaliyah tamyiz, proses seleski
internal di antara kita sendiri. Orang-orang yang stress dalam
perjalanan panjang itu juga reaksinya macam-macam. Ada yang menyalahkan
pilot. Tadi kenapa ga bilang banyak badai, kalo kita tahu kan ga usah
terbang. Tapi apapun reaksi antum, kita harus terus jalan, karena kita
tak mungkin berhenti di tengah badai itu, hancur diombang-ambingkan
entah mendarat dimana tak jelas.

Jadi apapun yg terjadi di luar, di dalam tak boleh gaduh karena gaduh
tak menyelesaikan masalah. Bagaimana kalau lagi goncang begitu
nyalah-nyalahin pilot terus pilot bilang ya sudah anda saja ambil alih
pesawat. Situasi seperti inilah yang sedang kita hadapi. Perlu diingat,
kita naik pesawat ini sukarela, kita memilih naik di pesawat ini.
Keputusan pribadi resiko pribadi kitapun kita sendiri menyetujuinya.

Pentingnya “Halaman Belakang”

Nah ikhwah sekalian,
Dalam keadaan seperti ini kita melihat antara cuaca yang ada di luar
dengan reaksi penumpang yang ada di dalam menentukan situasi apakah kita
akan tiba di tujuan dengan selamat. Setelah melampaui operasi politik
yang luar biasa, saya coba-coba cari inspirasi karena baca di
teori-teori politik ga ada teorinya. Semua asumsi teori politik
dilandaskan atas asumsi normal. Saya mencoba mencari insipirasi dimana
kita berada. Saya baca-baca terus Surat Al-Ahzab. Saya menemukan banyak
inspirasi di surat ini yang artinya partai-partai, golongan-golongan,
multipartai.

Ayat 1 sd ayat 7, berbicara tentang keluarga. Ayat 7-27 bicara
tentang situasi perang Khandaq. Ayat 28 dst bicara kembali tentang
keluarga. Seakan 2 surat ini ingin mengatakan setiap kita punya 2 dunia.
Dunia keluarga dan di luar keluarga. Dan kita bisa menghadapi
goncangan-goncangan apabila situasi keluarga juga tenang. Bisa
dibayangkan jika di luar terjadi goncangan, lalu pulang ke rumah juga
dapat goncangan.
Situasi keluarga ini juga digambarkan dalam alquran terkait
permintaan tawaran Nabi kepada istri-istrinya. Tawarkan kepada
istri-istrimu: Katakan hai Muhammad, bahwa kalau kamu menginginkan
kenikmatan dunia maka akan saya berikan kenikmatan dunia, lalu saya
ceraikan kalian. Artinya putus hubungan. Ini dilakukan supaya kita tak
menghadapi dua front sekaligus.

Salah satu pembahasan tentang Palestina waktu di Sudan, pimpinan
Hamas diprotes sama beberapa ikhwan dari negara lain. Hamas ini kan
gerakan perlawanan, Muqawamah. Misinya jihad. Anda sudah melakukanyna.
Tapi 4 tahun terakhir anda memegang Gaza dan tak lagi berperang. Hanya
keliling-keliling cari duit untuk dibagikan ke rakyat Gaza, sudah
menikmati kenikmatan dunia karena berkuasa. Saya pikir benar juga logis
juga 4 tahun tak ada perang. Kenapa anda tak menyerang Israel.

Kenapa tak dipakai serang Israel? Sudah punya roket, basis kota, dll.
Ust. Khalid Misyal menjawab tenang. Kalo kita bertempur kita memerlukan
hal yang disebut halaman belakang, jadi kalau prajurit maju dia capek
mundur istirahat di halaman belakang. Lalu maju lagi. Seperti mujahidin
Afgan melawan Uni Soviet punya halaman belakang namanya Pakistan. Tapi
kita di palestina tak punya halaman belakang karena seluruh tetangga
palestina dalah kolaborator Israel. Yordan, Syria, Mesir, Libanon tak
ada yang bisa jadi halaman belakang. Orang Palestina manusia biasa juga.
Kalau bertempur terus lalu stress bisa melakukan kesalahan terlalu
banyak atau bahkan jadi kanibalis. Itu yang tak dimiliki Hamas sekarang.
Halaman belakang Hamas adalah Gaza. Kasih kita waktu untuk istirahat.

Kalau perang terus yang mempunyai masalah bukan cuma mujahidinnya
tapi juga keluarga yang ditinggal. Seperti masa Khalifah Umar bin
Khatab. Seorang perempuan berpantun ria. Isinya aneh kira-kira begini:
Demi Allah kalau bukan karena takut padamu, niscaya ranjang ini sudah
bergoyang dengan laki-laki lain.
Saat menghadapi perang Timtim, ada tentara yang jadi kanibalis.
Ketemu rumah dibakar, orang disembelih, hewan disembelih. Sampai
sekarang orang ini kalau ga lihat darah dalam seminggu bisa stres.

Jadi di pesawat disuruh kencangkan ikat pinggang, ingat bahwa kita
meninggalkan rumah. Terus pulang ingat akan perang lagi. Sampai ada yang
bilang mending pesawat ini meledak saja sekalian (grr…). Jadi ikhwah
sekalian, halaman belakang kita itu adalah rumah kita sendiri.
Bayangkan. Lagi ada masalah di luar, istri telpon, “Bi pulang cepat ada
masalah di rumah.”

Tentu berbeda jika sekalipun memang ada masalah di rumah, tapi istri
mengatakan, “Umi dan anak-anak mendoakan abi.” Tenang kita berangkat.
Kita perlu ketenangan itu.
Basis ketahanan keluarga adalah basis yang kuat. Jadi yang menjadi
fokus basis ketahanan keluarga oleh bidang perempuan ini sudah benar.
Karena kita akan menghadapi masa seperti kaum muslimin di perang
Khandaq. Makin kuat goncangan makin butuh halaman belakang yang solid.
Seorang ikhwan ketemu marah-marah sama saya, bukan sama saya tapi
sebenarnya sedang stres. Memang nasib saya tak terlalu bagus hari ini.
Stres di kerjaan selama lebih dari 12 jam. Pulang diomelin istri, nanti
saya mau berdoa. Allah, berikanlah saya istri-istri yang tidak komplain
terus sama saya. Ini joke saja. Jadi memang berat kalau menghadapi dua
perang seperi itu, butuh ketahanan jiwa yang luar biasa.

Menguji Kadar Kejujuran

Ayat 27-28 itu Allah mulai merekonstruksi peristiwa perang Khandaq.
Dan rekonstruksi ini dimulai dengan 2 premis. Ayat ke 7 dan 8 yang
mengatakan: Dan ingatlah tatkala Allah mengambil dari Nabi-nabi itu
sebuah perjanjian dan dari kamu Muhammad, dari Nuh, Musa, Isa, kami
ambil dari mereka mitsaqon ghaliza. Semua goncangan ini adalah sunnah
dalam perjalanan hidup. Asyadun naas… yang paling keras ujian hidupnya
adalah nabi-nabi, lalu yang paling dekat hidupnya dengan nabi-nabi. Jadi
siapa saja yang melalui jalan ini pasti mengalami goncangan. Begitu
juga Rasulullah saw.

Itu yang disebut mitsaqon ghaliza. Perjanjian yang keras. Supaya
Allah menguji orang yang jujur. Kita berbaiat bukan dengan satu orang.
Tapi baiat kita uahidullah al adziim. Berbaiat dengan Allah bukan dengan
muroqib aam, atau presiden partai. Kadar kejujuran itu yang akan diuji,
ini emasnya berapa karat. Perhatikan Al Ahzab melukiskan Perang Khandaq
dan detil-detilnya. Lalu ayat sesudahnya. Dalam jalan hidup kita pasti
ada badai, badai ini untuk menguji kadar kejujuran kita itu. Jadi itu
semua cuma ujian. Itu kan cuma peristiwa beberapa menit. Benar-benar
seperti sebuah drama.

Premis kedua Allah mengatakan: Wahai orang-orang yang beriman
ingatlah karunia Allah kepada kalian. Karena yang memenangkan
pertarungan ini bukan strategi kalian yang sangat hebat tapi karena
Allah menghendaki begitu.

Allah maunya begitu2x. Jadi semua strategi ini cuma asbab. Tapi hasil
akhirnya seluruhnya ketentuan Allah swt. Tatkala tentara-tentara itu
datang kepada kalian, kami kirim kepada mereka badai/angin. Kenapa
angin? Isyarat dari Allah bahwa tools Allah untuk menjalankan rencananya
sangat banyak.

Memang hanya angin, tapi angin-angin dikumpulin jadi satu, efeknya
beda. Angin-angin dikumpulin jadi badai. Dan tentara yang kalian tidak
lihat. Dan Allah maha melihat apa yang kalian lakukan. Detil lukisannya.
Tatkala tentara-tentara itu datang di atas kalian… Perang khandaq
terjadi pada tahun ke5. Pasukan terdiri dari 10ribu musyrikin. Ini perlu
antum perhatian lukisan ini. H-6 menjelang pertempuran info baru
diketahui pasukan muslimin. Terdiri dari 4ribu musyrikin quraisy sisanya
musyrikin arab non quraisy. Jadi mobilisasi terbesar dibanding 2 perang
besar sebelumnya. Badar 1000 musyrikin, Uhud 3ribu musyrikin. Naik jadi
10 ribu ini mobilisasi yang luar biasa. Puncak mobilisasi.

Tapi yang lebih berbahaya karena info serangan baru diterima H-6.
Muslimin Madinah ga siap makanya menggali parit setengah kota madinah.
Saat itu musim dingin dan musim paceklik. Dingin madinah bagi yang tahu,
beda dengan dinginnya puncak. Menusuk, mudah hidung mengeluarkan
darah.

Maka parit khandaq itu digali sejauh lompatan kuda. Lebar 6 meter
dalamnya 3 meter. Masalah lain, bagaimana menyelesaikan pekerjaan itu
dalam 6 hari? Itu sudah masalah tersendiri dan ini juga pelajaran
tentang speed of consolidation, tingkat kecepatan konsolidasi.

Musuh Dari Dalam

Selain musyrikin dari luar, ada lagi pasukan yang dari bawah yang
dekat dengan kalian. Yaitu yahudi madinah yang sudah tandatangan piagam
NKRI sebelumnya. Jadi ada 3 kabilah besar yahudi berkolaborasi dengan 10
ribu yang ada di luar. Ada lagi kaum munafiqin dalam jamaah muslim. Ada
lagi yang lain: dhuafa muslimin. Orang-orang lemah yang kata Allah: di
antara kalian ada yang suka mendengarkan ocehan mereka itu.
Waktu partai diserang ada yang bilang jangan-jangan benar serangan
itu. Jadi ada musyrikin dari luar, ada yahudi, ada munafiqin. Dalam
lukisan ini sangat pendek deskripsi tentang musyrikin, yang panjang
justru tentang munafiqin dan dhuafa. Yang di dalam yang mengambat kamu,
yang membuat kamu ragu-ragu untuk maju. Begitulah ungkapan sebagian
mereka. Musuh terlalu besar. Target terlalu besar. Apalagi hasil survei
masih rendah.

Yang dari dalam itu yang paling berbahaya. Yang saya katakan tadi,
reaksi penumpang di pesawat bisa beda-beda. Satu teriak-teriak
ketakutan, ada yang diam saja. Ingatlah tatkala mata kalian membelalak
dan jantung kalian sampai ke tenggorokan dan kalian mulai menduga yang
buruk tentang Allah. Saat itulah orang beriman diuji
segoncang-goncangnya. Ada satu masa kita menghadapi semuanya. Apalagi
pilot disorientasi, penumpang panik. Fasten seatbelt, dan tawakal. Itu
saja.

Perhatikan, ini adalah drama, Allah mengendalikan semuanya, karena
pertempuran ini tak selesai dengan pertempuran. Dalam drama Khandaq,
apakah ada pertempuran? Begitu kaum musyrikin sampai, mereka bingung kok
ada parit, bengong di depan parit itu. Akhirnya mereka mengalami
disorientasi. Nunggu-nunggu begitu , yang terjadi saling menatap.

Saat itu pasukan muslimin dibagi dua: 3ribu di pinggir parit sisanya
orangtua, perempuan, anak-anak di balik bukit. Salah satu yang disuruh
jaga bukit adalah Hasan bin Tsabit. Penyair, jadi agak mellow.  Ada
perempuan mengatakan ada yahudi yang mau menghasut kita, ya Hasan bunuh
yahudi itu. Hasan gemetar karena takut, akhirnya perempuan itu yang
membunuhnya.

Rajin mendengarkan hasutan dan takut ambil resiko, seperti pengikut
nabi Musa: kita nunggu hasil aja deh. Dan ada orang yang seperi itu. Ini
semua cuma drama. Bagaimana menyelesaikannya? Pasukan musyrikin
dikirimkan angin, dan Allah mengembalikan orang-orang kafir itu dengan
seluruh kemarahan mereka, target mereka tak tercapai. Dan Allah
menghindarkan orang-orang beriman dari medan pertempuran.

Seperti ulat bulu, gampang saja Allah kirimkan. Dua orang yang sama
bersiasat terhadap kita. Hatinya diputar-putar. Oleh Allah, dua orang
ini bertengkar. Siapa yang bikin mereka bertengkar kita juga tak tahu.
Ya Allah sibukkanlah orang zalim dengan sesama orang zalim. Karena Allah
yang memutarb alikkan hatinya. Kita diselamatkan Allah dengan caranya
sendiri.

Coba antum bayangkan waktu kemarin kita hadapi operasi politik, saat
itu kita dihadapkan perjanjian baru yang luar biasa mengekangnya. Oooh..
begini cara kerjanya. Kita ulur-ulur terus sedikit-sedikit. Kita
dengarkan semua sudah tandantangan tinggal PKS. Kita dengarkan terus,
kita tahu semua ini hanya drama. Allah yang mengatur semua, ilmu kita
ini tidak memadai . Waktu kita mau tandatangan, Ust Lutfi Tanya ke ust
Hilmi, tandatandangan ustadz? Muroqib aam bilang tandatangan, kita sudah
menang. 90% usul kita diterima di kontrak itu.

Di kontrak kita buat celah agar kita bisa exit ketika ada masalah,
cuma orang tak tahu kapan exitnya. Dan kita punya dokumen-dokumen yang
tak dimiliki partai lain. Waktu kemudian saya ketemu mereka, Pak Sudi,
Pak Joko, saat peringatan hari lahir Pancasila, kita jabat tangannya
agak enak. Apakah ada pertempuran? Tak ada pertempuran. Diselesaikan
dengan cara Allah swt.

Makanya ikhwah sekalian, dalam situasi sedemikian, tegangnya, tak
tahu endingnya dan bikin orang panik, orang yang tak tersambung ke
langit gampang menyerahnya. Tapi karena kita tahu skenario Allah, kita
jadi tenang menghadapinya. Waktu nabi Musa diserang Firaun, Allah justru
nyuruh ke tepi laut. Teorinya orang dikejar itu larinya ke gunung. Ini
ke tepi laut. Mau apa kita di sini? Itu kan hal yang sederhana. Ada
rencana yang belum disampaikan Allah swt. Jangan laju dulu. Dikejar tapi
jangan laju dulu.
Pada subuh harinya ayam berkokok tak subuh hari, tapi saat matahari
mulai terbit. Jadi orang terlambat bangun. Tapi firaun masih santai
karena merasa masih bisa menyusul Musa. Begitu Musa sampai di tepi laut,
Allah perintahkan pukul tongkat itu. Firaun bingung, darimana Musa
dapat teknologi membelah laut? Setelah Musa dan pengikutnya lewat dan
Firaun masuk ke tengah-tengah itu, maka close. Dan sebuah sejarah
diakhiri.
Apakah ada pertempuran? Tak ada pertempuran.

Yang diperlukan keyakinan penuh yang tak mempan digoyang. Badasi
sedikit, kader-kader banyak yang stres, under pressure. Begitu ada
kecelakaan kejadian Arifinto, muncul suara dari kader: Pecat! Padahal
ini kesalahan pelanggaran menengah tak perlu sampai sebegitu sanksinya,
tapi semua ikhwah di daerah minta pecat! Mundur! Dewan Syariah juga
akhirnya under pressure. Akhirnya DSP bikin keputusan sendiri. Arifinto
berjiwa besar. Dia ambil keputusan sendiri. Mengundurkan diri.
Tapi antum lihat, itulah efek kepanikan.

Dan sekarang efek ini pindah ke tempat lain. Sebenarnya secara hukum
aneh, Nazarudin itu belum ada status hukumnya sudah dicekal. Tapi
hakim-hakim sekarang menghadapi masalah yang juga dihadapi di masa
suatu khalifah. Khalifah dan rakyat bertengkar. Hakim bingung. Kalau
saya menangkan khalifah, dibilang saya subyektif menangin khalifah
karena dia berkuasa. Kalau memenangkan rakyat – yang belum tentu benar –
saya akan dielu-elukan karena berpihak pada rakyat.

Ini tak ada hubungannya dengan kasus Nazarudin, tapi kita lihat bahwa
hakim bisa menghadapi masalah seperti ini. Saya ketemu mantan ketua KPK
Pak Ruki, yang saya katakan KPK bertaji ketika Pak Ruki jadi Ketuanya.
Dia katakana permintaan publik terlalu besar. Kemampuan terlalu kecil.
Kita dikasih satu kampak, yang mau ditebang hutan. Kita tebang, dibilang
tebang pilih, habis itu semua teman kita jadi musuh, kita jadi
kehilangan teman ,kehilangan keluarga. Kita menghadapi situasi seperti
ini. Kekacauan seperti ini.
Serangan-serangan ini, kita butuh ketenangan. Jadi ikhwah sekalian,
dengan kesadaran bahwa kita menghadapi goncangan, sumber ketenangan kita
berasal dari keyakinan kepada Allah swt yakin pertolongan bahwa ujian
yang akan dihadapi ini bersifat individual. Ujian individual.

Efek Multiplier Negara

Negara ini hanyalah sumber daya yang kita perlukan, bukan yang kita
tuju. Peran utama kita adalah ustadziyah. Negara ini adalah sumber daya.
Waktu kita buat partai cuma 3000 orang. Sekarang berapa kelipatanya?
Siapa menteri keuangan jaman nabi Muhamad. Siapa kas jaman nabi? Ada
kan? DPW Lampung punya kas ga? Kalo ga punya kas ga mungkin punya GSG
begini.

Yang masuk islam sebelum hijrah beda dengan yang masuk islam pasca
fathu makkah tentu berbeda. Sekitar 100 sampai 125 ribu orang. Yang
pasca fathu mekkah masuk Islam karena apa? Karena politik. Yang masuk
islam sebelum itu individual. Pemilih individual. Yang pasca fathu
makkah komunal, politik. Terjadi kuantum pada kuantitas karena ada efek
kemenangan.

Itulah efek Negara, Negara punya efek multiplier, mengapa yang masuk
islam pas hijrah sedikit? Karena yang terbayang resiko. Liqo
sembunyi-sembunyi. Resiko ditangkap. Jadi kita akan menghabiskan umur
produktif kita underground. Yang sanggup melakoni ini adalah yang punya
mentalitas hati bersih, akal sehat , berani pula. Ciri-ciri generasi
pertama. Generasi muhajirin jumlahnya sedikit, tapi mereka yang memulai
arus sejarah. Begitu berkembang jadi arus, yang lain follower.
Orang-orang datang masuk islam.
Sebagian orang masuk islam bukan karena percaya pada islam tapi
setelah melihat kekuatan islam. Yang masuk islam karena melihat kekuatan
islam adalah pengikut politis. Coba antum lihat berapa kader kita
setelah kita jadi partai. Berapa kuantumnya? Berawal dari 500 orang.
Lalu 800-an di awal berpartai. Sekarang 33 ribuan. Itulah efek Negara,
jadi Negara adalah sumberdaya dan setiap ideologi butuh 2 hal. Pertama
komunitas. Kedua, sumber daya. Pertama adalah qiyadah. Kedua junud,
follower. Tapi untuk membangun ini semua butuh sumber daya. Di PKS
ideologi jelas. Komunitas jelas. Masalahnya di sumber daya. Kelak
setelah PKS memegang Negara ini yang jadi gubernur bukan PKS, tapi
mendaftar di PKS jadi gubernur. Di pergaulan sehari-hari kita dengar
ungkapan orang, hati saya di PKS. Itu efek Negara. Efek kemenangan.
Mereka bukan saja membuka hati kepada islam tapi juga takut kepada
islam.

Makanya fathu makkah 100ribu laki-laki perempuan. Apa yang mereka
katakan. Hai Muhammad kamu ini adalah saudara yang mulia, putra dari
saudara yang mulia. Begitu sanjungannya. Akan ada waktunya orang datang
pada antum: PKS kumpulan orang soleh, orang-orang dermawan, bagi dong
(grr..). Itu sesuai marhalah mereka. Kata Nabi, kalian bebas. Saya tak
datang untuk balas dendam. Bukan untuk membunuh tapi untuk buka mata
kalian pada kebenaran.

Sekarang kita berbuat baik, masih gampang dioperasi. Nanti saatnya
kita berkuasa orang akan berpikir, dia ini bukan cuma baik, tapi juga
bisa balas dendam. Selama ini kita masih pakai tawakal saja. Sekarang
kita yang akan menyerang mereka. Setelah itu mereka tak bisa menyerang
kita lagi.

Ketika datang perintah haji, kafir Mekkah bilang tahulah kalau kita
kalah sama orang Madinah, sekarang orang Madinah mau datang haji, apa
maskudnya? Ngeledek. Show of force. Maka mereka ga boleh masuk. Lalu
terjadilah Perjanjian Hudaibiyah, kenapa Rasulullah menerima. Ini posisi
kita diserang. Situasi defensive juga ada di musyrik Qurais. Tahun
berikutnya terjadi umroh qodho. Tahun berikutnya fathu makkah. Dan
jumlah yang masuk islam pasca fathu makkah berkali lipat dibanding era
mekkah sampai perang khandaq.

Negara adalah organisasi yang dibutuhkan masyarakat untuk mengatur
Negara. Kalau ada bansos, boleh ga ikhwah nerima? Boleh saja tapi sesuai
persyaratan dan perlu diorganisasi. Kalau ga ada organisasi ga ada
pertandingan. Kalau ada organisasi tapi ga dihormati ujung-ujungnya
perkelahian.

Tapi organisasi ini adalah infrastruktur. Ga ada isinya. Pernah suatu
waktu, negara jalan sendiri, agama jalan sendiri. Ketika kita coba
mengumpulkan keduanya, itu dalam konteks menyempurnakan infrastruktur
dan isinya. Konten dan sumber daya.

Percayadiri Takeover Negara

Saya heran orang memperdebatkan agama. Ulama sunni menjelaskan
hubungan agama dan Negara. Negara adalah penjaga. Agama adalah asasnya.
Kalo ga bikin partai tarbiyah jalan terus tapi tumbuh terbatas. Ketika
kita maju ke Negara persoalannya bukan profesionalisme, tapi konfiden.
Termasuk kita di DPP beranggapan jarak masih jauh karena butuh banyak
keahlian, dst. Padahal sesungguhnya yang dibutuhkan adalah konfiden,
rasa percaya diri. Ini bukan tujuan hanya sarana untuk mengukur seluruh
rencana dakwah.

Tentang debat hari lahir Pancasila, memang ada kesalahan pada mindset
kaum muslimin saat itu dalam memandang masalah. Bukankah Pancasila
adalah perjanjian terbuka. Makanya seluruh aliran dimasukkan disini jadi
konsensus bersama. Sila pertama cuma 2 yaitu asas religiusitas: semua
org Indonesia Beragama. Maka yang dipakai adalah kalimat umum: ketuhanan
yang Maha Esa. Karena Indonesia terlalu beragam. Dan karena pimpinan
Indonesia saat itu menganut sosialis.

Kemanusiaan yang adil dan beradab. Persatuan Indonesia. Asasnya
keadilan, ga ada kata kemakmuran karena kultur kita lebih
berinterpretasi pada pemerataan daripada kemakmkuran. Baru ada di
mukadimah UUD. Kita lihat ketika pancasila lahir, begitulah
situasinya.

Ditanya PKS asasnya Pancasila atau Islam? Saya tanya apakah itu
pertanyaan? Ini semua sudah selesai 3x. Pancasila adalah konsensus
bersama. Selesai. Kenyataannya, sekarang pancasila ga dilirik lagi oleh
anak muda. Maka PKS saatnya mentakeover seluruh isu nasionalisme
(applause…). Jangan lagi jadi pertanyaan.

Ini semangat sinkretisme di budaya jawa karena kalau antum lihat
semua agama pernah lahir di Jawa. Beruntunglah sudah ada hindu dan
budha, lalu Islam datang langsung jadi mayoritas. Kristen datang tapi
jumlah penganutnya tidak terlalu berkembang. Islam masuk melalui jalur
niaga. Pedagang-pedagang arab. Mereka berdagang, dilihat akhlaknya bagus
lalu kawin dengan anak raja. Lalu jadi raja. Begitulah Islam jadi
mayoritas. Ini diceritakan dengan runtut oleh seorang penulis dari
Australia. Dari abad 13 sampai dengan sekarang bisa dibilang seluruhnya
adalah sejarah islam. Tapi common platform: seperti rasulullah ketika
memfutuhkan mekkah. Persepsi awalnya orang-orang ini akan menyerang
kita.
Mereka harus diredam semangat permusuhannya. Siapapun yang menyerang
madinah, yang paling mungkin diserang adalah orang Islam. Tapi kepada
Yahudi, kaum kafir di Madinah, Rasulullah bilang kita semua diperangi.
Wa mualafati qulubuhum. Ada orang yang perlu dilembut-lembutkan hatinya. Pakai apa? Pakai fulus.

Pancasila = common platform. Ketegangan ini lebih karena semangat
orde baru memaksakan asas tunggal dan karena islam sudah lama
termarjinalisasi. Dan orang Islam seperti melihat Negara di kejauhan.
Di harlah pancasila ada ikhwah pakai kopiah putih. Ditanya kok ga
pake kopiah hitam? Dia jawab urusan saya bukan sama pancasila, urusan
saya sama quran dan sunnah. Bagaimana mempertahankan mindset ini pada
saat yang sama kita yang harus mengisi ruang kosong yang ada sekarang.

Tahun 2008 kita ingin membuka sekat-sekat islam dan nasionalisme.
Sekarang bukan lagi menghilangkan sekatnya tapi take over agar kita
bukan cuma bicara atas nama umat tapi atas nama bangsa keseluruhan.

Oleh karenanya perlu memperdalam tsaqofah nasionalisme. Untuk
memperkuat semangat memiliki negara ini. Kita bukan orang luar. Kita ini
orang dalam. Ahlul bayt Negara ini. Sifat-sifat, perasaan ini, yang
harus dihilangkan. Salah satu sebab kemenangan adalah hilangnya
kepercayaan pada partai-partai lama. Tapi pertanyaannya adalah apakah
PKS bisa mewakili semua pihak bukan hanya dirinya sendiri,
1999 kita ikut sidang baru dikasih hak bicara. Kita belum memimpin
sidang. Sekarang punya hak mengambil keputusan. Apa kerjanya kalau belum
menguasai Negara? Mengangkat orang agar menguasai jabatan.
Wallahu alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s